Jumat, 16 Maret 2012

Ricardian Comparative Advantage : Perdagangan Internasional dan Implikasinya


          The Principles of Political Economy and Taxation yang diterbitkan pada tahun 1817 menjadi bukti semakin kuatnya sikap oposisi para ekonom terhadap sistem ekonomi merkantilis pada masa itu. Merkantilisme yang tumbuh subur di Eropa pada abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18 menuai banyak kritik dari para pemikir ekonomi pada abad tersebut, seperti Thomas Hume, Adam Smith, dan David Ricardo. Teori keunggulan komparatif, yang menjadi salah satu teori ekonomi klasik paling berpengaruh, menandai berakhirnya era merkantilisme dan secara langsung menandai dimulainya pemikiran ekonomi klasik.  Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Appleyard dan Field, “Toward The end of the 18th century, Mercantilism came under increasing attack by a group of political economist, whose views eventually became known as the classical shcool of economics ... This movement was given even more impetus by the work of David Ricardo, The Principles of Political Economy and Taxation (1817) ...[1].
            David Ricardo hadir dengan teori keunggulan komparatif sebagai revisi dari teori absolute advantage setelah pada tahun 1799 Ricardo membaca The Wealth of Nations milik Adam Smith. Melalui teori keuntungan komparatif ini, Ricardo dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai konsep  perdagangan internasional sekaligus menyempurnakan teori Smith. Berdasarkan teori tersebut, Ricardo mencoba menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat tetap memberikan keuntungan perdagangan (the gains from trade) bagi negara, terlepas dari apakah negara bersangkutan memiliki keunggulan mutlak atas negara lain atau tidak. Teori Ricardo ini secara eksplisit menyatakan bahwa apa yang dijelaskan oleh Adam Smith — bahwa perdagangan diantara dua negara akan menguntungkan selama diantara kedua negara tersebut terdapat keunggulan mutlak yang timbal balik — tidak harus selalu berlaku dalam perdagangan antarnegara. Untuk kedua kalinya, hal ini tercermin dari pendapat Aplleyard dan Field dalam bukunya International Economics, yakni “... The Principles of Political Economy and Taxation, which stressed that the potential gains from international trade were not confined to absolute advantage.[2]. Setali tiga uang dengan pendapat Appleyard dan Field, Lindert dan Pugel mengatakan, “ The key word here is comparative, meaning relative and not necessarily absolute. Even if one nation is the most productive at producing everything and another is the least, they both gain by trading with each other ... as long as their (dis)advantages in making different goods are different in any way.”[3]
Dalam teorinya, Ricardo mengatakan, “a nation, like a person, gains from trade by exporting the goods or services in which it has its greatest comparative advantage in productivity and importing those in which it has the least comparative advantage.”[4] Berdasarkan penjelasan tersebut, Ricardo mencoba menjelaskan bahwa perdagangan internasional memiliki dampak positif bagi sebuah negara melalui dua cara, yakni perdagangan internasional sebagai alat produksi tidak langsung maupun sebagai jalan untuk mendapatkan keuntungan perdagangan (the gains from trade). Bersandar pada pendapat tersebut, Krugman dan Obstfeld dalam analisisnya mengatakan, “instead of producing a good for itself, a country can produce another good and trade it for the desired good ... we can show that trade enlarges a country’s consumption possibilities, implying gains from trade.”[5]. Sebelum menjabarkan lebih jauh mengenai teorinya tersebut, Ricardo mengajukan beberapa asumsi yang digunakan dalam analisis teorinya. Asumsi-asumsi tersebut tertuang dalam buku International Economics karya Appleyard dan Field, yakni :

“1. Each country has a fixed endowment of resources and units of each particular resource are 
  Identical, 2. the factors of production are completely mobile between alternative uses within a country, 3. the factors of production are completely immobile externally, that is, they do not move between countries, 4. a labor theory of value is employed in the model, 5. the level of technology is fixed for both countries, although the technology can differ between them, 6. costs of production are constant, 7.  there is full employment, 8. the economy is characterized by perfect competition, 9. there are no government-imposed obstacles to economic activity, 10. internal and external transportation costs are zero.[6]

            Terdapat banyak poin penting yang perlu diperhatikan dari uraian asumsi-asumsi Ricardo tersebut. Banyak asumsi Ricardo yang tidak realistis dan bersifat restriktif. Ini berarti bahwa asumsi-asumsi yang dibuat oleh Ricardo cenderung tidak dapat ditemukan dalam kehidupan nyata dimana perdagangan internasional tersebut berlangsung. Asumsi-asumsi yang dimaksud, antara lain:
1.      Asumsi pertama Ricardo mengatakan bahwa setiap negara memiliki sumber daya yang tetap jumlahnya dan setiap unit dari sumber daya tersebut sama persis. Asumsi ini secara kasat mata sangat tidak realistis. Jika pun dapat diterapkan, asumsi ini hanya dapat berjalan pada negara-negara dengan karakteristik alam yang sama. Itu pun tidak menjamin sumber daya yang dikandung negara-negara tersebut sama persis dan memiliki jumlah yang tetap;
2.      Pada asumsi ketujuhnya, Ricardo menggunakan konsep full employment terhadap negara-negara peserta perdagangan internasional. Namun, asumsi ideal Ricardo tersebut secara eksplisit tidak dapat ditemukan pada kehidupan nyata. Bahkan di negara maju sekalipun, lebih-lebih di negara berkembang dan miskin;
3.      Beberapa poin lainnya pun masih sangat bersifat restriktif dan tidak realistis, seperti poin kedelapan dalam asumsi Ricardo. Poin kedelapan menyatakan bahwa corak ekonomi yang terjadi dalam negara-negara yang terlibat dalam perdagangan — menurut teori comparative advantage — harus bersifat persaingan sempurna. Terkait dengan poin kesembilan tersebut, Ricardo mengatakan, “ no single consumer or producer is large enough to influence the market; hence all are price takers. All participants have full access to market information, there is free entry to and exit from an industry, and all prices equal the marginal cost of production.[7]. Permasalahannya, corak ekonomi suatu negara yang benar-benar 100% melambangkan corak ekonomi persaingan sempurna tidak ditemukan dalam realitasnya;
4.      Poin kesepuluh yang menyebutkan bahwa biaya transportasi barang, baik domestik maupun internasional, sama dengan nol. Hal ini mengindikasikan sebuah keadaan dimana tidak ada biaya transportasi barang dalam perdagangan internasional. Bertentangan dengan asumsi tersebut, pada kenyataannya biaya produksi seringkali menjadi faktor major dalam menentukan keputusan sebuah negara dalam perdagangan internasional.  Bahkan dikatakan bahwa, “... the cost of moving a product from one country’s location to another can be very high.[8] Sehingga, asumsi ini cenderung mengabaikan faktor-faktor lain selain produksi yang juga mempengaruhi kinerja negara dalam melakukan perdagangan.

Dengan beberapa asumsi diatas, Ricardo berusaha memaparkan teori comparative advantage tersebut dengan melakukan penyederhanaan sample. Penyederhanaan ini melingkupi beberapa penyederhanaan, seperti jumlah negara yang melakukan perdagangan diasumsikan antara dua negara saja, serta setiap negara tersebut hanya memproduksi dua jenis komoditas dalam aktivitas ekonominya. Secara spesifik, Ricardo mengasumsikan negara Portugal dan England melakukan perdagangan dengan memproduksi wine dan baju seperti yang terdapat pada tabel 1.

Ricardian Production Conditions in England and Portugal[9]

Wine
Cloth
Price
Ratios in Autarky
Portugal
80 hours/barrel
90 hours/yard
1 W:  C (or 1C:  W)
England
120 hours/barrel
100 hours/yard
1W: C (or 1C: W)

            Berdasarkan data pada tabel diatas, Portugal memiliki keunggulan mutlak pada kedua komoditas. Maka, menurut teori Adam Smith, tidak ada kesempatan kedua negara untuk melakukan perdagangan internasional sebab Inggris di satu sisi memiliki kelemahan absolut pada kedua komoditas perdagangan. Dengan demikian, Ricardo mencoba menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat saja terjadi meskipun Inggris tidak memiliki keunggulan mutlak seperti apa yang dikatakan oleh Smith. Ricardo menjelaskan, Portugal akan lebih efisien dalam memproduksi wine dibandingkan baju, di pihak lain, kelemahan absolut Inggris relatif lebih kecil dalam memproduksi baju.
            Dalam perbandingannya, negara Portugal memiliki jumlah waktu tenaga kerja yang lebih sedikit —80 jam/barrel untuk wine dan 90 jam/yard untuk baju — dibandingkan oleh Inggris, yakni 120 jam/barrel untuk wine dan 100 jam/yard untuk baju. Pada harga pasar domestik — asumsi Ricardo mengenai suatu keadaan dimana tidak terjadi perdagangan antara Portugal dan Inggris — maka di Inggris, nilai tukar satu barrel wine sama dengan  yard baju setara dengan nilai tukar satu yard baju dengan  barrel wine. Sedangkan di Portugal, untuk mendapatkan satu barrel wine harus ditukarkan dengan  yard baju dan begitupun sebaliknya. Dengan keadaan demikian, Ricardo mengemukakan bahwa, “Thus, Portugal stands to gain if it can specialize in wine and acquire cloth from England at a ratio of 1 barrel:  yards, or 1W:  C. Similarly, England would benefit by specializing in cloth production and exporting cloth to Portugal, where it could receive  barrels of wine per yard of cloth instead of  barrels per yard at home.[10]
            Dengan spesialisasi produksi tersebut, Ricardo berpendapat bahwa perdagangan internasional yang terjadi diantara keduanya akan saling menguntungkan. Namun, dalam menjelaskan keuntungan perdagangan (the gains from trade), Ricardo belum dapat memberikan ukuran rasio harga yang tercapai antarnegara, mengingat rasio harga ini merupakan salah satu syarat penting terjadinya perdagangan internasional. Aplleyard dan Field mengatakan, “Ricardo did not examine the precise determination of the international price ratio or the term of trade. But the important point is that, after trade, there will be a common price of wine in terms of cloth in the two countries.[11] Apa yang disebut oleh Appleyard dan Field dengan termcommon price” dalam kutipan di atas adalah harga keseimbangan yang terjadi antara Portugal dan Inggris dalam melakukan perdangangan wine dan baju. Rasio praperdagangan antara 1W: C di Inggris dan 1W: C di Portugal akan mengalami titik temu melalui perdangan antarnegara tersebut. Sebuah hal yang biasa terjadi ketika unifikasi sebuah pasar baru akan dilaksanakan.
            Ricardo dalam bukunya “The Principles of Political Economiy and Taxation” menggunakan asumsi 1W:1C sebagai titik temu antara kedua rasio harga di kedua negara untuk menjelaskan keuntungan perdagangan (the gains from trade). Dengan rasio harga ini, Inggris memekerjakan 100 jam tenaga kerja untuk menghasilkan 1C — satu yard baju — dan jika diinginkan, dapat ditukarkan dengan 1W — satu barrel wine — dari Portugal. Secara gamblang, dapat dikatakan bahwa 100 jam tenaga kerja di negara Inggris secara tidak langsung telah memproduksi satu barrel wine. Sehingga, dengan adanya perdagangan internasional tersebut, Inggris mendapat keuntungan perdagangan berupa 20 jam tenaga kerja dengan asumsi bahwa jika Inggris memproduksi satu barrel wine di dalam negeri, maka dibutuhkan sebanyak 120 jam tenaga kerja. Keuntungan perdagangan juga dirasakan oleh Portugal. Dengan rasio perdagangan 1C:1W, maka dengan 80 jam tenaga kerja untuk menghasilkan 1W — satu barrel wine —, Portugal dapat menukarnya dengan 1C — satu yard baju — dari Inggris. Padahal, untuk menghasilkan 1C —satu yard baju — di dalam negeri, Portugal harus memekerjakan sebanyak 90 jam tenaga kerja. Dengan demikian, Portugal mendapatkan keuntungan perdagangan sebanyak 10 jam tenaga kerja.
            Menanggapi asumsi Ricardo mengenai rasio harga antarkedua negara tersebut, Appleyard dan Field memberikan analisis yang lebih mendalam. Mereka menggunakan rasio harga yang berbeda untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya rasio harga yang disepakati oleh setiap negara anggota perdagangan tersebut. Dalam analisisnya, Appleyard dan Field menggunakan asumsi rasio harga yang berbeda, yakni 1C:1,1W. Portugal yang memiliki keunggulan komparatif dalam komoditas wine, membutuhkan 80 jam tenaga kerja untuk menghasilkan 1W — satu barrel wine — untuk menukarkannya dengan 1,1C — 1,1 yard baju. Dalam hal ini, Portugal akan mendapatkan keuntungan perdagangan yang lebih besar sebab jika Portugal lebih memilih untuk memproduksi 1,1C di dalam negeri, maka waktu yang dibutuhkan Portugal adalah sebesar 99 jam tenaga kerja (90 jam × 1,1C). Sehingga melalui perdagangan ini, Portugal mendapat keuntungan sebesar 19 jam tenaga kerja. Sebaliknya, Inggris dengan rasio harga ini, mendapatkan keuntungan perdagangan yang lebih kecil. Untuk menghasilkan 1,1C — 1,1 yard baju — Inggris membutuhkan 110 jam tenaga kerja, yang kemudian ditukarkan dengan 1W — satu barrel wine. Dengan asumsi jika Inggris melakukan produksi satu barrel wine di dalam negeri membutuhkan sebanyak 120 jam, maka Inggris mendapatkan keuntungan sebesar 10 jam tenaga kerja. Sebuah nilai keuntungan yang lebih kecil ketika rasio harga keduanegara sebesar 1C:1W.[12] Apa yang menjadi poin penting sebenarnya berada pada pemahaman tentang betapa pentingnya rasio harga yang disepakati oleh kedua negara tersebut. Rasio tersebut akan secara langsung berimbas pada distribusi keuntungan perdagangan yang diperoleh oleh kedua negara. Jika rasio harga tersebut tidak seimbang, maka akan terjadi ketimpangan keuntungan perdagangan seperti yang ditunjukan oleh Appleyard dan Field di atas.
            Teori keunggulan komparatif sejauh ini menjadi salah satu teori ekonomi klasik yang sangat berpengaruh. Beberapa asumsi yang semula digunakan oleh Ricardo dan dianggap sebagai sebuah kelemahan, telah membuat banyak ahli untuk melakukan analisis lebih jauh terhadap teori ini. Salah satunya adalah dengan mengaplikasikan teori keunggulan komparatif ini dengan asumsi yang berbeda, misalnya dengan mempertimbangkan biaya transportasi barang, multikomoditas — lebih dari dua komoditas —, dan multinegara — lebih dari dua negara yang melakukan perdagangan. Pendekatan lebih lanjut juga memasukkan konsep wage rate dan exchange rate sebagai penyempurnaan terhadap rasio harga yang dijelaskan diatas. Dengan mempertimbangkan wage rate, exchange rate, transportation cost, jumlah komoditas yang beragam, dan jumlah negara yang terlibat lebih dari dua, maka asumsi Ricardo terdahulu yang bersifat sangat restriktif dan terkesan tidak realistis dapat dibuat mendekati kenyataan. Pada tahun 1963, seorang ekonom Hongaria, Bela Balassa menerbitkan sebuah makalah mengenai rasio ekspor antara Amerika Serikat dan Inggris untuk membuktikan apakah teori keunggulan komparatif ini masih cukup relevan atau tidak terhadap konsep perdagangan internasional. Dalam makalahnya, Balassa menunjukkan rasio ekspor Amerika-Inggris selama tahun 1951. Balassa berhasil membuktikan, melalui makalahnya tersebut, bahwa meskipun Inggris tidak memiliki keunggulan mutlak atas Amerika dan memiliki tingkat produktivitas industri dua kali lebih kecil dibandingkan Amerika, namun Inggris tetap mendapatkan keuntungan melalui konsep keunggulan komparatif[13].  Balassa menyebutkan, “In 12 of the sectors, however, Britain actually had larger exports than the United States... So in a rough way, at least, the Ricardian model is borne out by the evidence[14]
            Teori keunggulan komparatif juga mengukuhkan pandangan para ekonom klasik terhadap hakekat dari perdagangan bebas antarnegara. Secara implisit, dengan teori ini, Ricardo menyetujui bahwa perdagangan bebas antarnegara merupakan alat negara untuk memperoleh keuntungan dan sarana paling tepat untuk meningkatkan kegiatan ekonomi makro sebuah negara. Tidak mengherankan jika para ahli ekonomi pada masa ini melihat bahwa pengendalian pemerintah yang berlebihan dan instrumen pajak impor merupakan penghalang yang menggerus kesempatan negara untuk mengembangkan kemampuan ekonominya melalui kegiatan perdagangan anatarnegara. Pernyataan serupa juga ditulis oleh Appleyard dan Field, “Finally, government restraint and taxes on industry reduce economic competitiveness and the gains from trade.”[15] 
            Dalam dunia nyata, teori keunggulan komparatif tidaklah sesederhana perdagangan antara Portugal dan inggris seperti yang dijelaskan oleh Ricardo. Ekspor suatu negara hampir tidak mungkin hanya berupa satu jenis barang saja. Namun, bukan tidak mungkin dengan semakin kompleksnya barang yang diekspor oleh negara-negara di dunia, maka basic concept dari teori ini tidak dapat dijalankan. Berikut merupakan beberapa jenis barang ekspor dari beberapa negara di dunia yang memiliki perbedaan jenis, yang artinya bahwa terdapat keunggulan komparatif yang terjadi diantara negara-negara berikut.
Extent of Export Concentration, Selected Coutries[16]

Country
Export Categories
Percentage of Total Export Value
Country
Export Categories
Percentage of Total Export Value
Argentina (1992)
Food and live animals
Basic manufactures
44.1 %
11.8 %
Japan (1992)
Machines, transport equipment
Basic manufactures
71.4 %

11.5 %
Colombia (1992)
Food and live animals
Mineral Fuels

32.0 %
28.5%
Korea, Republic of (1992)
Machines, transport equipment
Basic manufactures
42.5 %

24.4 %
Cote d’Ivore (1989)
Food and live animals
Crude materials, excluding fuels
59.7 %
13.5 %
New Zealand (1992)
Food and live animals
Crude materials, excluding fuels
45.9 %
16.8 %
Cuba (1989)
Food and live animals
Crude materials, excluding fuels
80.1 %
9.7 %
Saudi Arabia (1989)
Mineral fuels, etc.
Chemicals and related products
84.9 %
9.2 %
Iceland (1992)
Food and live animals
Basic manufactures
81.0 %
13.0 %
United States (1992)
Machines, transport equipment
Miscellaneous manufactured goods
48.0 %

10.8 %

Note : “Basic manufactures” refers to products such as rubber, wood, and textile yarn and fabrics; “Miscellaneous manufactured goods” refers to a wide variety of consumer products.
Source : United Nations, 1992 International Trade Statistics Yearbook, Vol I (New York : United Nations, 1993), pp28-30, 189-90, 215, 228, 439, 493-95, 523-25, 653-54, 812, 987-89.

            Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bagaimana keunggulan komparatif satu negara terhadap negara lain. Negara-negara berkembang misalnya, lebih memiliki keunggulan komparatif pada bahan-bahan makanan, seperti Argentina, Kolombia, Cote d’Ivoire, dan Kuba, melainkan juga memiliki keunggulan komparatif pada sumber daya alam, seperti Arab Saudi. Sebaliknya, negara-negara maju tampak jelas memiliki keunggulan komparatif dalam produksi mesin-mesin dan alat transportasi, seperti yang ditunjukkan oleh Jepang dan Amerika Serikat. Meskipun demikian, beberapa negara maju lain, seperti Islandia dan Selandia Baru misalnya, memiliki orientasi yang berbeda dengan memilih melakukan ekspor barang-barang pokok. Data-data tersebut sekaligus juga membuktikan bahwa teori keunggulan komparatif masih sangat relevan dengan kehidupan perdagangan internasional meskipun teori ini lahir lebih dari seratus tahun sebelum laporan Standard International Trade Classification (SITC) dari PBB ini dikeluarkan.
            Terlepas dari laporan PBB tersebut, para pemikir ekonomi klasik sebenarnya, khususnya Adam Smith dan David Ricardo, sejak lama telah mendukung konsep perdagangan antarnegara di dunia. Selain sebagai alat pemenuhan kebutuhan dalam negeri, mereka juga percaya bahwa perdagangan interasional merupakan motor penggerak perkembangan ekonomi bagi negara. David Ricardo dengan pemikiran keunggulan komparatifnya yakin bahwa perdagangan internasional akan dapat membuat hubungan sebuah negara dengan negara lain menjadi lebih dekat dalam menyamakan persepsi, memberikan stimulasi bagi dunia kewirausahaan, penemuan, dan inovasi. Seperti Adam Smith yang mengatakan, “ ... export markets could enable a country to use resources that otherwise would remain idle. The resulting movement to full employment would increase the level of economic activity and allow the country to acquire foreign goods to enhance consumption and/or investment and growth.”[17] Sejalan dengan pemikiran Adam Smith, David Ricardo dan para pendukungnya berpendapat, “... the benefits from trade resulted not from theallocation of underused resources, but from the more efficient use of domesticresources which came about through the specialization in production according to comparative advantage.”[18] John Stuart Mill pun mengatakan, “ ... the dynamic effects of trade that were of critical importance to a country’s economic development.[19]   Apa yang menjadi permasalahan dalam hal ini menurut Ricardo adalah persepsi yang berkembang dalam perdagangan antara negara berkembang dan negara maju. Banyak negara-negara berkembang yang memiliki keunggulan absolut atas negara-negara maju cenderung kurang memberikan perhatian terhadap sumber daya-sumber daya lainnya yang memiliki keunggulan komparatif terhadap negara lain. Belum lagi, dapat kita jumpai banyak pemerintah negara-negara berkembang yang memberlakukan kebijakan-kebijakan proteksi untuk mempertahankan keunggulan absolutnya terhadap negara-negara maju. Berkenaan dengan hal tersebut, Appleyard dan Field mengatakan, “such actions clearly hinder the more efficient use of resources achieved through trade and reduce the potential gains that come about through increased specialization.[20] Dalam dunia nyata dapat kita saksikan banyak negara berkembang ataupun miskin yang tidak berani memasuki dunia perdagangan internasional bukan karena tidak memiliki keunggulan komparatif atas negara lain, namun karena terjadi miskonsepsi terhadap teori keunggulan komparatif. Negara-negara berkembang maupun miskin terkadang terlalu sibuk melihat dan mencari keunggulan absolutnya terhadap negara lain, padahal perdagangan internasional sebenarnya dapat terlaksana — pun menguntungkan — tanpa adanya keunggulan absolut sebuah negara. Miskonsepsi ini misalnya menurut Krugman dan Obstfeld dapat terlihat dari pernyataan seorang columnist pada Wall Street Journal pada tahun 1983 yang mengatakan, “many small countries have no comparative advantage in anything[21] Kembali menurut Krugman dan Obstfeld, pernyataan columnist pada Wallstreet Journal tesebut merupakan sebuah fallacy yang secara implisit mendorong persepsi isolasi negara-negara kecil dan berkembang dari perdagangan internasional. Keduanya berpendapat, “what the Wall Street Journal columnist must have meant is that “many small countries have no absolute productivity advantage over other countries in anything.” What he failed to understand is that an absolute productivity over other countries in producing a good is neither a necessary nor a sufficient condition for having a comparative advantage in that good.”[22]
            Miskonsepsi mengenai teori comparative advantage tidak berhenti hanya sampai disitu. Krugman dan Obstfeld mencatat setidaknya ada dua hal lagi yang menjadi akar kesalahpahaman, yakni apa yang disebut sebagai sweatshop labor argument dan unequal exchange. Miskonsepsi pertama, sweatshop labor argument, mengatakan bahwa “Foreign competition is unfair and hurts other countries when it is based on low wages.[23] Bahkan pada tahun 1986, miskonsepsi ini pernah melanda dunia dengan diterbitkannya tiga edisi artikel oleh New York Times yang ditulis oleh seorang ekonom bernama Professor John Culbertson dari University of Wisconsin. Profesor Culbertson melalui artikelnya mengatakan bahwa perdagangan internasional — dalam analisisnya beliau menggunakan term “foreign competition” — yang didasarkan pada biaya upah rendah bersifat dekstruktif terhadap ekonomi Amerika. Miskonsepsi ini mengetengahkan poin penting bahwa seharusnya industri dalam perdagangan internasional tidak memasukkan industri asing yang kurang efisien namun memiliki tingkat upah lebih rendah. Hal ini menurut Krugman dan Obstfeld tidak relevan dengan konsep keunggulan komparatif Ricardo. Kembali mengacu pada contoh perdagangan antara Portugal dan Inggris diatas, Portugal yang sebenarnya lebih produktif pada kedua komoditas — baju dan wine — dan harga baju Inggris yang lebih murah disebabkan oleh tingkat upah tenaga kerja Inggris yang lebih murah. Terhadap hal ini Krugman dan Obstfeld mengatakan bahwa perihal harga baju Inggris yang lebih murah karena produktivitas atau tingkat upah tenaga kerja bukanlah sebuah permasalahan. Hal yang menjadi penting menurutnya adalah Portugal mendapatkan keuntungan jam tenaga kerja dari perdagangan tersebut. Sebab jika Portugal tetap memaksakan memproduksi baju di dalam negeri, maka jam tenaga kerja yang dibutuhkan akan jauh lebih banyak dari jam tenaga kerja dalam melakukan perdagangan.[24]
            Miskonsepsi yang kedua, unequal exchange, mengatakan “Trade exploits a country and makes it worse off if the country uses more labour to produce the goods it exports than other countries use to produce the goods it receives in return.[25] Untuk memperjelas argumen ini, Krugman dan Obstfeld kembali menggunakan contoh Ricardo, yakni Portugal dan Inggris. Dengan pertukaran perdagangan antara keduanya, satu barrel wine dapat ditukarkan dengan satu yard baju, artinya barang yang dibuat dengan waktu 80 jam di Portugal ditukarkan dengan barang yang dibuat dengan waktu 100 jam di Inggris. Perbedaan jam tenaga kerja untuk kedua barang tersebut tidak relevan jika dikaitkan dengan konsep pengeksploitasian dan lebih menguntungkan salah satu pihak saja. Dalam menentukan sebuah perdagangan internasional menguntungkan atau tidak, sebuah negara tidak seharusnya mengukur jumlah jam tenaga dalam negeri dalam memproduksi barang ekspornya dan jumlah tenaga kerja luar negeri dalam memproduksi barang impornya. Yang tepat menurut Krugman dan Obstfeld adalah mengukur jumlah jam tenaga kerja dalam negeri dalam memproduksi barang ekspornya terhadap jumlah jam tenaga kerja dalam negeri dalam memproduksi barang impornya jika melakukan produksi sendiri.[26]
Teori keunggulan komparatif dengan konsep spesialisasi produksi bukan berarti tidak memiliki sisi negatif jika dilihat dari sudut pandang ekonomi makro. Konsep spesialisasi produksi ini dikhawatirkan akan mempersulit keadaan produsen dalam negeri atas barang-barang yang tidak memiliki keunggulan komparatif. Misalnya, kembali merujuk pada contoh yang diberikan oleh Ricardo diatas, yakni perdagangan antara Portugal dan Inggris. Portugal yang memiliki keunggulan komparatif terhadap Inggris atas produksi wine akan mengimpor baju dari Inggris. Dengan demikian, banyaknya baju yang akan diimpor dan masuk ke dalam pasar dalam negeri Portugal secara langsung akan menyulitkan produsen baju lokal. Hal ini disebabkan karena pangsa pasar produsen lokal akan menjadi lebih kecil sebab harus berkompetisi dengan produsen baju Inggris yang mengekspor hasil produksinya ke Portugal. Terlebih lagi jika kekuatan produsen lokal belum begitu mampu untuk berkompetisi dengan produsen luar negeri.
            Terlepas dari kontradiksi yang menyertainya, teori keunggulan komparatif milik David Ricardo telah berhasil memberikan jawaban atas kegalauan negara-negara berkembang terhadap perdagangan internasional. Kegalauan negara-negara berkembang tersebut dapat terlihat dari keraguan apakah perdagangan internasional tersebut dapat memberikan keuntungan terhadap negara-negara berkembang atau tidak. Menjawab pertanyaan tersebut, teori keunggulan komparatif tidak memandang status sebuah negara sebab selama setiap negara memiliki perbedaan sumber daya dan ekspor, maka konsep keunggulan komparatif akan dapat berjalan, tidak peduli negara tersebut merupakan negara maju atau negara berkembang sekalipun. Sebagai kesimpulan, poin penting yang menjadi perhatian David Ricardo adalah perdagangan internasional pada dasarnya memberikan banyak dampak positif terhadap kemajuan ekonomi sebuah negara. Sebagaimana yang dikatakan oleh Appleyard dan Field terhadap konsep dan pemikiran David Ricardo, mereka berpendapat “Thus, the classical writers have made us aware that tarde can be a positive vehicle for economic growth ... Any country can benefit from trade in which some foreign goods can be purchased at prices that are relatively lower than at home, even it if is absolutely less efficient in the production of all goods compared to a more developed trading partner.[27]



[1] Dennis R. Appleyard & Alfred J. Field, International Economics Second Ed (Chicago : Richard D. Irwin, Inc, 1995), 29
[2] Ibid.
[3] Peter H. Lindert & Thomas A. Pugel, International Economics Tenth Ed (United States of America : Michael W. Junior, 1996),  33-34
[4] Ibid.
[5] Paul R. Krugman & Maurice Obstfeld, International Economics Theory and Policy Third Ed (New York : Harper Collins College Publishers, 1994), 30
[6] Appleyard & Field, op. cit., 29-30.
[7] Appleyard & Field, op. cit., 29-30.
[8] Ibid., 48
[9] Ibid., 30
[10] Dominick Salvatore, International Economics Fifth Ed (New Jersey : Prentice-Hall, Inc, 1993) , 31
[11] Appleyard & Field, op. cit., 31
[12] Ibid., 33
[13] Bela Balassa,  “An Empirical Demonstration of Classical Comparative Cost Theory,” The Review of Economics and Statistics
Vol. 45, Aug
ust, 1963 : 231-238
[14] Paul R. Krugman & Maurice Obstfeld, International Economics Theory and Policy Third Ed (New York : Harper Collins College Publishers, 1994), 29
[15] Appleyard & Field, op. cit., 53
[16] Ibid., 32
[17] Ibid., 39
[18] Ibid.
[19] Ibid.
[20] Ibid.
[21] Paul R. Krugman & Maurice Obstfeld, International Economics Theory and Policy Third Ed (New York : Harper Collins College Publishers, 1994), 21
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] Ibid.
[25] Ibid., 22
[26] Ibid.
[27] Appleyard & Field, op. cit., 39

Tidak ada komentar:

Posting Komentar