The
Principles of Political Economy and Taxation yang diterbitkan pada tahun 1817 menjadi bukti semakin kuatnya sikap
oposisi para ekonom terhadap sistem ekonomi merkantilis pada masa itu.
Merkantilisme yang tumbuh subur di Eropa pada abad ke-16 hingga pertengahan
abad ke-18 menuai banyak kritik dari para pemikir ekonomi pada abad tersebut,
seperti Thomas Hume, Adam Smith, dan David Ricardo. Teori keunggulan
komparatif, yang menjadi salah satu teori ekonomi klasik paling berpengaruh,
menandai berakhirnya era merkantilisme dan secara langsung menandai dimulainya
pemikiran ekonomi klasik. Hal ini
sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Appleyard dan Field, “Toward The end of the 18th century,
Mercantilism came under increasing attack by a group of political economist,
whose views eventually became known as the classical shcool of economics
... This movement was given even more
impetus by the work of David Ricardo, The Principles of Political Economy and
Taxation (1817) ...”[1].
David
Ricardo hadir dengan teori keunggulan komparatif sebagai revisi dari teori absolute advantage setelah pada tahun 1799
Ricardo membaca The Wealth of Nations
milik Adam Smith. Melalui teori keuntungan komparatif ini, Ricardo dapat
memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai konsep perdagangan internasional sekaligus
menyempurnakan teori Smith. Berdasarkan teori tersebut, Ricardo mencoba
menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat tetap memberikan keuntungan
perdagangan (the gains from trade)
bagi negara, terlepas dari apakah negara bersangkutan memiliki keunggulan mutlak
atas negara lain atau tidak. Teori Ricardo ini secara eksplisit menyatakan
bahwa apa yang dijelaskan oleh Adam Smith — bahwa perdagangan diantara dua negara
akan menguntungkan selama diantara kedua negara tersebut terdapat keunggulan
mutlak yang timbal balik — tidak harus selalu berlaku dalam perdagangan
antarnegara. Untuk kedua kalinya, hal ini tercermin dari pendapat Aplleyard dan
Field dalam bukunya International
Economics, yakni “... The Principles
of Political Economy and Taxation, which stressed that the potential gains from
international trade were not confined to absolute advantage.”[2]. Setali
tiga uang dengan pendapat Appleyard dan Field, Lindert dan Pugel mengatakan, “ The key word here is comparative, meaning
relative and not necessarily absolute. Even if one nation is the most
productive at producing everything and another is the least, they both gain by
trading with each other ... as long as their (dis)advantages in making
different goods are different in any way.”[3]
Dalam teorinya, Ricardo mengatakan, “a nation, like a person, gains from trade by
exporting the goods or services in which it has its greatest comparative
advantage in productivity and importing those in which it has the least
comparative advantage.”[4] Berdasarkan
penjelasan tersebut, Ricardo mencoba menjelaskan bahwa perdagangan
internasional memiliki dampak positif bagi sebuah negara melalui dua cara,
yakni perdagangan internasional sebagai alat produksi tidak langsung maupun
sebagai jalan untuk mendapatkan keuntungan perdagangan (the gains from trade). Bersandar pada pendapat tersebut, Krugman
dan Obstfeld dalam analisisnya mengatakan, “instead
of producing a good for itself, a country can produce another good and trade it
for the desired good ... we can show that trade enlarges a country’s
consumption possibilities, implying gains from trade.”[5].
Sebelum menjabarkan lebih jauh mengenai teorinya tersebut, Ricardo mengajukan
beberapa asumsi yang digunakan dalam analisis teorinya. Asumsi-asumsi tersebut
tertuang dalam buku International
Economics karya Appleyard dan Field, yakni :
“1. Each country has a fixed endowment of resources and units of each
particular resource are
Identical, 2. the factors of
production are completely mobile between alternative uses within a country, 3. the
factors of production are completely immobile externally, that is, they do not
move between countries, 4. a labor theory of value is employed in the model, 5.
the level of technology is fixed for both countries, although the technology
can differ between them, 6. costs of production are constant, 7. there is full employment, 8. the economy is
characterized by perfect competition, 9. there are no government-imposed obstacles
to economic activity, 10. internal and external transportation costs are zero.”[6]
Terdapat
banyak poin penting yang perlu diperhatikan dari uraian asumsi-asumsi Ricardo
tersebut. Banyak asumsi Ricardo yang tidak realistis dan bersifat restriktif.
Ini berarti bahwa asumsi-asumsi yang dibuat oleh Ricardo cenderung tidak dapat
ditemukan dalam kehidupan nyata dimana perdagangan internasional tersebut
berlangsung. Asumsi-asumsi yang dimaksud, antara lain:
1. Asumsi pertama Ricardo mengatakan bahwa setiap
negara memiliki sumber daya yang tetap jumlahnya dan setiap unit dari sumber
daya tersebut sama persis. Asumsi ini secara kasat mata sangat tidak realistis.
Jika pun dapat diterapkan, asumsi ini hanya dapat berjalan pada negara-negara
dengan karakteristik alam yang sama. Itu pun tidak menjamin sumber daya yang
dikandung negara-negara tersebut sama persis dan memiliki jumlah yang tetap;
2. Pada asumsi ketujuhnya, Ricardo menggunakan konsep
full employment terhadap
negara-negara peserta perdagangan internasional. Namun, asumsi ideal Ricardo
tersebut secara eksplisit tidak dapat ditemukan pada kehidupan nyata. Bahkan di
negara maju sekalipun, lebih-lebih di negara berkembang dan miskin;
3. Beberapa poin lainnya pun masih sangat bersifat
restriktif dan tidak realistis, seperti poin kedelapan dalam asumsi Ricardo.
Poin kedelapan menyatakan bahwa corak ekonomi yang terjadi dalam negara-negara
yang terlibat dalam perdagangan — menurut teori comparative advantage — harus bersifat persaingan sempurna. Terkait
dengan poin kesembilan tersebut, Ricardo mengatakan, “ no single consumer or producer is large enough to influence the market;
hence all are price takers. All participants have full access to market
information, there is free entry to and exit from an industry, and all prices equal
the marginal cost of production.”[7].
Permasalahannya, corak ekonomi suatu negara yang benar-benar 100% melambangkan
corak ekonomi persaingan sempurna tidak ditemukan dalam realitasnya;
4. Poin kesepuluh yang menyebutkan bahwa biaya
transportasi barang, baik domestik maupun internasional, sama dengan nol. Hal
ini mengindikasikan sebuah keadaan dimana tidak ada biaya transportasi barang
dalam perdagangan internasional. Bertentangan dengan asumsi tersebut, pada
kenyataannya biaya produksi seringkali menjadi faktor major dalam menentukan keputusan sebuah negara dalam perdagangan
internasional. Bahkan dikatakan bahwa, “... the cost of moving a product from one
country’s location to another can be very high.”[8]
Sehingga, asumsi ini cenderung mengabaikan faktor-faktor lain selain produksi
yang juga mempengaruhi kinerja negara dalam melakukan perdagangan.
Dengan beberapa asumsi diatas, Ricardo
berusaha memaparkan teori comparative
advantage tersebut dengan melakukan penyederhanaan sample. Penyederhanaan ini melingkupi beberapa penyederhanaan,
seperti jumlah negara yang melakukan perdagangan diasumsikan antara dua negara
saja, serta setiap negara tersebut hanya memproduksi dua jenis komoditas dalam
aktivitas ekonominya. Secara spesifik, Ricardo mengasumsikan negara Portugal
dan England melakukan perdagangan dengan memproduksi wine dan baju seperti yang terdapat pada tabel 1.
Ricardian
Production Conditions in England and Portugal[9]
|
|
Wine
|
Cloth
|
Price
Ratios
in Autarky
|
|
Portugal
|
80
hours/barrel
|
90
hours/yard
|
1 W:
|
|
England
|
120
hours/barrel
|
100
hours/yard
|
1W:
|
Berdasarkan
data pada tabel diatas, Portugal memiliki keunggulan mutlak pada kedua
komoditas. Maka, menurut teori Adam Smith, tidak ada kesempatan kedua negara
untuk melakukan perdagangan internasional sebab Inggris di satu sisi memiliki
kelemahan absolut pada kedua komoditas perdagangan. Dengan demikian, Ricardo
mencoba menjelaskan bahwa perdagangan internasional dapat saja terjadi meskipun
Inggris tidak memiliki keunggulan mutlak seperti apa yang dikatakan oleh Smith.
Ricardo menjelaskan, Portugal akan lebih efisien dalam memproduksi wine dibandingkan baju, di pihak lain,
kelemahan absolut Inggris relatif lebih kecil dalam memproduksi baju.
Dalam
perbandingannya, negara Portugal memiliki jumlah waktu tenaga kerja yang lebih
sedikit —80 jam/barrel untuk wine dan 90 jam/yard untuk baju — dibandingkan oleh Inggris, yakni 120 jam/barrel untuk wine dan 100 jam/yard
untuk baju. Pada harga pasar domestik — asumsi Ricardo mengenai suatu keadaan
dimana tidak terjadi perdagangan antara Portugal dan Inggris — maka di Inggris,
nilai tukar satu barrel wine sama
dengan
yard baju
setara dengan nilai tukar satu yard baju
dengan
barrel
wine. Sedangkan di Portugal, untuk mendapatkan satu barrel wine harus ditukarkan dengan
yard baju
dan begitupun sebaliknya. Dengan keadaan demikian, Ricardo mengemukakan bahwa,
“Thus, Portugal stands to gain if it can
specialize in wine and acquire cloth from England at a ratio of 1 barrel:
yards, or
1W:
C.
Similarly, England would benefit by specializing in cloth production and
exporting cloth to Portugal, where it could receive
barrels of
wine per yard of cloth instead of
barrels per
yard at home.”[10]
Dengan
spesialisasi produksi tersebut, Ricardo berpendapat bahwa perdagangan
internasional yang terjadi diantara keduanya akan saling menguntungkan. Namun,
dalam menjelaskan keuntungan perdagangan (the
gains from trade), Ricardo belum dapat memberikan ukuran rasio harga yang
tercapai antarnegara, mengingat rasio harga ini merupakan salah satu syarat
penting terjadinya perdagangan internasional. Aplleyard dan Field mengatakan, “Ricardo did not examine the precise
determination of the international price ratio or the term of trade. But the
important point is that, after trade, there will be a common price of wine in
terms of cloth in the two countries.”[11]
Apa yang disebut oleh Appleyard dan Field dengan term “common price” dalam
kutipan di atas adalah harga keseimbangan yang terjadi antara Portugal dan
Inggris dalam melakukan perdangangan wine
dan baju. Rasio praperdagangan antara 1W:
C di Inggris dan
1W:
C di Portugal
akan mengalami titik temu melalui perdangan antarnegara tersebut. Sebuah hal
yang biasa terjadi ketika unifikasi sebuah pasar baru akan dilaksanakan.
Ricardo
dalam bukunya “The Principles of
Political Economiy and Taxation” menggunakan asumsi 1W:1C sebagai titik
temu antara kedua rasio harga di kedua negara untuk menjelaskan keuntungan
perdagangan (the gains from trade).
Dengan rasio harga ini, Inggris memekerjakan 100 jam tenaga kerja untuk
menghasilkan 1C — satu yard baju —
dan jika diinginkan, dapat ditukarkan dengan 1W — satu barrel wine — dari Portugal. Secara gamblang, dapat dikatakan bahwa
100 jam tenaga kerja di negara Inggris secara tidak langsung telah memproduksi
satu barrel wine. Sehingga, dengan
adanya perdagangan internasional tersebut, Inggris mendapat keuntungan
perdagangan berupa 20 jam tenaga kerja dengan asumsi bahwa jika Inggris
memproduksi satu barrel wine di dalam
negeri, maka dibutuhkan sebanyak 120 jam tenaga kerja. Keuntungan perdagangan
juga dirasakan oleh Portugal. Dengan rasio perdagangan 1C:1W, maka dengan 80
jam tenaga kerja untuk menghasilkan 1W — satu barrel wine —, Portugal dapat menukarnya dengan 1C — satu yard baju — dari Inggris. Padahal, untuk
menghasilkan 1C —satu yard baju — di
dalam negeri, Portugal harus memekerjakan sebanyak 90 jam tenaga kerja. Dengan
demikian, Portugal mendapatkan keuntungan perdagangan sebanyak 10 jam tenaga
kerja.
Menanggapi
asumsi Ricardo mengenai rasio harga antarkedua negara tersebut, Appleyard dan
Field memberikan analisis yang lebih mendalam. Mereka menggunakan rasio harga
yang berbeda untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya rasio harga yang
disepakati oleh setiap negara anggota perdagangan tersebut. Dalam analisisnya,
Appleyard dan Field menggunakan asumsi rasio harga yang berbeda, yakni 1C:1,1W.
Portugal yang memiliki keunggulan komparatif dalam komoditas wine, membutuhkan 80 jam tenaga kerja
untuk menghasilkan 1W — satu barrel wine
— untuk menukarkannya dengan 1,1C — 1,1 yard
baju. Dalam hal ini, Portugal akan mendapatkan keuntungan perdagangan yang
lebih besar sebab jika Portugal lebih memilih untuk memproduksi 1,1C di dalam
negeri, maka waktu yang dibutuhkan Portugal adalah sebesar 99 jam tenaga kerja
(90 jam × 1,1C). Sehingga melalui perdagangan ini, Portugal mendapat keuntungan
sebesar 19 jam tenaga kerja. Sebaliknya, Inggris dengan rasio harga ini,
mendapatkan keuntungan perdagangan yang lebih kecil. Untuk menghasilkan 1,1C —
1,1 yard baju — Inggris membutuhkan
110 jam tenaga kerja, yang kemudian ditukarkan dengan 1W — satu barrel wine. Dengan asumsi jika Inggris
melakukan produksi satu barrel wine
di dalam negeri membutuhkan sebanyak 120 jam, maka Inggris mendapatkan
keuntungan sebesar 10 jam tenaga kerja. Sebuah nilai keuntungan yang lebih
kecil ketika rasio harga keduanegara sebesar 1C:1W.[12]
Apa yang menjadi poin penting sebenarnya berada pada pemahaman tentang betapa
pentingnya rasio harga yang disepakati oleh kedua negara tersebut. Rasio
tersebut akan secara langsung berimbas pada distribusi keuntungan perdagangan
yang diperoleh oleh kedua negara. Jika rasio harga tersebut tidak seimbang,
maka akan terjadi ketimpangan keuntungan perdagangan seperti yang ditunjukan
oleh Appleyard dan Field di atas.
Teori
keunggulan komparatif sejauh ini menjadi salah satu teori ekonomi klasik yang
sangat berpengaruh. Beberapa asumsi yang semula digunakan oleh Ricardo dan
dianggap sebagai sebuah kelemahan, telah membuat banyak ahli untuk melakukan
analisis lebih jauh terhadap teori ini. Salah satunya adalah dengan
mengaplikasikan teori keunggulan komparatif ini dengan asumsi yang berbeda,
misalnya dengan mempertimbangkan biaya transportasi barang, multikomoditas —
lebih dari dua komoditas —, dan multinegara — lebih dari dua negara yang
melakukan perdagangan. Pendekatan lebih lanjut juga memasukkan konsep wage rate dan exchange rate sebagai penyempurnaan terhadap rasio harga yang
dijelaskan diatas. Dengan mempertimbangkan wage
rate, exchange rate, transportation cost, jumlah komoditas
yang beragam, dan jumlah negara yang terlibat lebih dari dua, maka asumsi Ricardo
terdahulu yang bersifat sangat restriktif dan terkesan tidak realistis dapat
dibuat mendekati kenyataan. Pada tahun 1963, seorang ekonom Hongaria, Bela
Balassa menerbitkan sebuah makalah mengenai rasio ekspor antara Amerika Serikat
dan Inggris untuk membuktikan apakah teori keunggulan komparatif ini masih
cukup relevan atau tidak terhadap konsep perdagangan internasional. Dalam
makalahnya, Balassa menunjukkan rasio ekspor Amerika-Inggris selama tahun 1951.
Balassa berhasil membuktikan, melalui makalahnya tersebut, bahwa meskipun
Inggris tidak memiliki keunggulan mutlak atas Amerika dan memiliki tingkat
produktivitas industri dua kali lebih kecil dibandingkan Amerika, namun Inggris
tetap mendapatkan keuntungan melalui konsep keunggulan komparatif[13]. Balassa menyebutkan, “In 12 of the sectors, however, Britain actually had larger exports than
the United States... So in a rough way, at least, the Ricardian model is borne
out by the evidence”[14]
Teori
keunggulan komparatif juga mengukuhkan pandangan para ekonom klasik terhadap
hakekat dari perdagangan bebas antarnegara. Secara implisit, dengan teori ini,
Ricardo menyetujui bahwa perdagangan bebas antarnegara merupakan alat negara
untuk memperoleh keuntungan dan sarana paling tepat untuk meningkatkan kegiatan
ekonomi makro sebuah negara. Tidak mengherankan jika para ahli ekonomi pada
masa ini melihat bahwa pengendalian pemerintah yang berlebihan dan instrumen
pajak impor merupakan penghalang yang menggerus kesempatan negara untuk
mengembangkan kemampuan ekonominya melalui kegiatan perdagangan anatarnegara.
Pernyataan serupa juga ditulis oleh Appleyard dan Field, “Finally, government restraint and taxes on industry reduce economic
competitiveness and the gains from trade.”[15]
Dalam
dunia nyata, teori keunggulan komparatif tidaklah sesederhana perdagangan
antara Portugal dan inggris seperti yang dijelaskan oleh Ricardo. Ekspor suatu
negara hampir tidak mungkin hanya berupa satu jenis barang saja. Namun, bukan
tidak mungkin dengan semakin kompleksnya barang yang diekspor oleh
negara-negara di dunia, maka basic
concept dari teori ini tidak dapat dijalankan. Berikut merupakan beberapa
jenis barang ekspor dari beberapa negara di dunia yang memiliki perbedaan
jenis, yang artinya bahwa terdapat keunggulan komparatif yang terjadi diantara
negara-negara berikut.
Extent of
Export Concentration, Selected Coutries[16]
|
Country
|
Export
Categories
|
Percentage
of Total Export Value
|
Country
|
Export
Categories
|
Percentage
of Total Export Value
|
|
Argentina
(1992)
|
Food
and live animals
Basic
manufactures
|
44.1 %
11.8 %
|
Japan
(1992)
|
Machines,
transport equipment
Basic
manufactures
|
71.4 %
11.5 %
|
|
Colombia
(1992)
|
Food
and live animals
Mineral
Fuels
|
32.0 %
28.5%
|
Korea,
Republic of (1992)
|
Machines,
transport equipment
Basic manufactures
|
42.5 %
24.4 %
|
|
Cote
d’Ivore (1989)
|
Food
and live animals
Crude
materials, excluding fuels
|
59.7 %
13.5 %
|
New
Zealand (1992)
|
Food
and live animals
Crude
materials, excluding fuels
|
45.9 %
16.8 %
|
|
Cuba
(1989)
|
Food
and live animals
Crude materials,
excluding fuels
|
80.1 %
9.7 %
|
Saudi
Arabia (1989)
|
Mineral
fuels, etc.
Chemicals
and related products
|
84.9 %
9.2 %
|
|
Iceland
(1992)
|
Food
and live animals
Basic
manufactures
|
81.0 %
13.0 %
|
United
States (1992)
|
Machines,
transport equipment
Miscellaneous
manufactured goods
|
48.0 %
10.8 %
|
Note : “Basic
manufactures” refers to products such as rubber, wood, and textile yarn and
fabrics; “Miscellaneous manufactured goods” refers to a wide variety of
consumer products.
Source : United
Nations, 1992 International Trade Statistics Yearbook, Vol I (New York : United
Nations, 1993), pp28-30, 189-90, 215, 228, 439, 493-95, 523-25, 653-54, 812,
987-89.
Berdasarkan
data diatas, dapat dilihat bagaimana keunggulan komparatif satu negara terhadap
negara lain. Negara-negara berkembang misalnya, lebih memiliki keunggulan
komparatif pada bahan-bahan makanan, seperti Argentina, Kolombia, Cote
d’Ivoire, dan Kuba, melainkan juga memiliki keunggulan komparatif pada sumber
daya alam, seperti Arab Saudi. Sebaliknya, negara-negara maju tampak jelas
memiliki keunggulan komparatif dalam produksi mesin-mesin dan alat
transportasi, seperti yang ditunjukkan oleh Jepang dan Amerika Serikat.
Meskipun demikian, beberapa negara maju lain, seperti Islandia dan Selandia
Baru misalnya, memiliki orientasi yang berbeda dengan memilih melakukan ekspor
barang-barang pokok. Data-data tersebut sekaligus juga membuktikan bahwa teori
keunggulan komparatif masih sangat relevan dengan kehidupan perdagangan
internasional meskipun teori ini lahir lebih dari seratus tahun sebelum laporan
Standard International Trade
Classification (SITC) dari PBB ini dikeluarkan.
Terlepas
dari laporan PBB tersebut, para pemikir ekonomi klasik sebenarnya, khususnya
Adam Smith dan David Ricardo, sejak lama telah mendukung konsep perdagangan
antarnegara di dunia. Selain sebagai alat pemenuhan kebutuhan dalam negeri,
mereka juga percaya bahwa perdagangan interasional merupakan motor penggerak
perkembangan ekonomi bagi negara. David Ricardo dengan pemikiran keunggulan
komparatifnya yakin bahwa perdagangan internasional akan dapat membuat hubungan
sebuah negara dengan negara lain menjadi lebih dekat dalam menyamakan persepsi,
memberikan stimulasi bagi dunia kewirausahaan, penemuan, dan inovasi. Seperti
Adam Smith yang mengatakan, “ ... export
markets could enable a country to use resources that otherwise would remain
idle. The resulting movement to full employment would increase the level of
economic activity and allow the country to acquire foreign goods to enhance
consumption and/or investment and growth.”[17]
Sejalan dengan pemikiran Adam Smith, David Ricardo dan para pendukungnya
berpendapat, “... the benefits from trade
resulted not from theallocation of underused resources, but from the more efficient
use of domesticresources which came about through the specialization in
production according to comparative advantage.”[18]
John Stuart Mill pun mengatakan, “ ... the
dynamic effects of trade that were of critical importance to a country’s
economic development.”[19] Apa yang menjadi permasalahan dalam hal ini
menurut Ricardo adalah persepsi yang berkembang dalam perdagangan antara negara
berkembang dan negara maju. Banyak negara-negara berkembang yang memiliki
keunggulan absolut atas negara-negara maju cenderung kurang memberikan
perhatian terhadap sumber daya-sumber daya lainnya yang memiliki keunggulan
komparatif terhadap negara lain. Belum lagi, dapat kita jumpai banyak
pemerintah negara-negara berkembang yang memberlakukan kebijakan-kebijakan
proteksi untuk mempertahankan keunggulan absolutnya terhadap negara-negara
maju. Berkenaan dengan hal tersebut, Appleyard dan Field mengatakan, “such actions clearly hinder the more
efficient use of resources achieved through trade and reduce the potential
gains that come about through increased specialization.” [20] Dalam
dunia nyata dapat kita saksikan banyak negara berkembang ataupun miskin yang
tidak berani memasuki dunia perdagangan internasional bukan karena tidak
memiliki keunggulan komparatif atas negara lain, namun karena terjadi
miskonsepsi terhadap teori keunggulan komparatif. Negara-negara berkembang
maupun miskin terkadang terlalu sibuk melihat dan mencari keunggulan absolutnya
terhadap negara lain, padahal perdagangan internasional sebenarnya dapat
terlaksana — pun menguntungkan — tanpa adanya keunggulan absolut sebuah negara.
Miskonsepsi ini misalnya menurut Krugman dan Obstfeld dapat terlihat dari
pernyataan seorang columnist pada Wall Street Journal pada tahun 1983 yang
mengatakan, “many small countries have no
comparative advantage in anything”[21]
Kembali menurut Krugman dan Obstfeld, pernyataan columnist pada Wallstreet
Journal tesebut merupakan sebuah fallacy
yang secara implisit mendorong persepsi isolasi negara-negara kecil dan
berkembang dari perdagangan internasional. Keduanya berpendapat, “what the Wall Street Journal columnist must
have meant is that “many small countries have no absolute productivity
advantage over other countries in anything.” What he failed to understand is
that an absolute productivity over other countries in producing a good is
neither a necessary nor a sufficient condition for having a comparative
advantage in that good.”[22]
Miskonsepsi
mengenai teori comparative advantage tidak berhenti hanya sampai disitu.
Krugman dan Obstfeld mencatat setidaknya ada dua hal lagi yang menjadi akar
kesalahpahaman, yakni apa yang disebut sebagai sweatshop labor argument dan unequal
exchange. Miskonsepsi pertama, sweatshop
labor argument, mengatakan bahwa “Foreign
competition is unfair and hurts other countries when it is based on low wages.”[23]
Bahkan pada tahun 1986, miskonsepsi ini pernah melanda dunia dengan
diterbitkannya tiga edisi artikel oleh New
York Times yang ditulis oleh seorang ekonom bernama Professor John Culbertson dari University
of Wisconsin. Profesor Culbertson melalui artikelnya mengatakan bahwa
perdagangan internasional — dalam analisisnya beliau menggunakan term “foreign competition” — yang didasarkan
pada biaya upah rendah bersifat dekstruktif terhadap ekonomi Amerika.
Miskonsepsi ini mengetengahkan poin penting bahwa seharusnya industri dalam
perdagangan internasional tidak memasukkan industri asing yang kurang efisien namun
memiliki tingkat upah lebih rendah. Hal ini menurut Krugman dan Obstfeld tidak
relevan dengan konsep keunggulan komparatif Ricardo. Kembali mengacu pada
contoh perdagangan antara Portugal dan Inggris diatas, Portugal yang sebenarnya
lebih produktif pada kedua komoditas — baju dan wine — dan harga baju Inggris yang lebih murah disebabkan oleh
tingkat upah tenaga kerja Inggris yang lebih murah. Terhadap hal ini Krugman
dan Obstfeld mengatakan bahwa perihal harga baju Inggris yang lebih murah
karena produktivitas atau tingkat upah tenaga kerja bukanlah sebuah
permasalahan. Hal yang menjadi penting menurutnya adalah Portugal mendapatkan
keuntungan jam tenaga kerja dari perdagangan tersebut. Sebab jika Portugal
tetap memaksakan memproduksi baju di dalam negeri, maka jam tenaga kerja yang
dibutuhkan akan jauh lebih banyak dari jam tenaga kerja dalam melakukan
perdagangan.[24]
Miskonsepsi
yang kedua, unequal exchange, mengatakan
“Trade exploits a country and makes it
worse off if the country uses more labour to produce the goods it exports than
other countries use to produce the goods it receives in return.”[25]
Untuk memperjelas argumen ini, Krugman dan Obstfeld kembali menggunakan contoh
Ricardo, yakni Portugal dan Inggris. Dengan pertukaran perdagangan antara keduanya,
satu barrel wine dapat ditukarkan
dengan satu yard baju, artinya barang
yang dibuat dengan waktu 80 jam di Portugal ditukarkan dengan barang yang
dibuat dengan waktu 100 jam di Inggris. Perbedaan jam tenaga kerja untuk kedua
barang tersebut tidak relevan jika dikaitkan dengan konsep pengeksploitasian
dan lebih menguntungkan salah satu pihak saja. Dalam menentukan sebuah
perdagangan internasional menguntungkan atau tidak, sebuah negara tidak
seharusnya mengukur jumlah jam tenaga dalam negeri dalam memproduksi barang
ekspornya dan jumlah tenaga kerja luar negeri dalam memproduksi barang
impornya. Yang tepat menurut Krugman dan Obstfeld adalah mengukur jumlah jam
tenaga kerja dalam negeri dalam memproduksi barang ekspornya terhadap jumlah
jam tenaga kerja dalam negeri dalam memproduksi barang impornya jika melakukan
produksi sendiri.[26]
Teori keunggulan komparatif dengan
konsep spesialisasi produksi bukan berarti tidak memiliki sisi negatif jika
dilihat dari sudut pandang ekonomi makro. Konsep spesialisasi produksi ini
dikhawatirkan akan mempersulit keadaan produsen dalam negeri atas barang-barang
yang tidak memiliki keunggulan komparatif. Misalnya, kembali merujuk pada
contoh yang diberikan oleh Ricardo diatas, yakni perdagangan antara Portugal
dan Inggris. Portugal yang memiliki keunggulan komparatif terhadap Inggris atas
produksi wine akan mengimpor baju dari
Inggris. Dengan demikian, banyaknya baju yang akan diimpor dan masuk ke dalam
pasar dalam negeri Portugal secara langsung akan menyulitkan produsen baju lokal.
Hal ini disebabkan karena pangsa pasar produsen lokal akan menjadi lebih kecil
sebab harus berkompetisi dengan produsen baju Inggris yang mengekspor hasil
produksinya ke Portugal. Terlebih lagi jika kekuatan produsen lokal belum
begitu mampu untuk berkompetisi dengan produsen luar negeri.
Terlepas
dari kontradiksi yang menyertainya, teori keunggulan komparatif milik David
Ricardo telah berhasil memberikan jawaban atas kegalauan negara-negara
berkembang terhadap perdagangan internasional. Kegalauan negara-negara
berkembang tersebut dapat terlihat dari keraguan apakah perdagangan
internasional tersebut dapat memberikan keuntungan terhadap negara-negara
berkembang atau tidak. Menjawab pertanyaan tersebut, teori keunggulan
komparatif tidak memandang status sebuah negara sebab selama setiap negara
memiliki perbedaan sumber daya dan ekspor, maka konsep keunggulan komparatif
akan dapat berjalan, tidak peduli negara tersebut merupakan negara maju atau
negara berkembang sekalipun. Sebagai kesimpulan, poin penting yang menjadi perhatian
David Ricardo adalah perdagangan internasional pada dasarnya memberikan banyak
dampak positif terhadap kemajuan ekonomi sebuah negara. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Appleyard dan Field terhadap konsep dan pemikiran David Ricardo,
mereka berpendapat “Thus, the classical
writers have made us aware that tarde can be a positive vehicle for economic
growth ... Any country can benefit from trade in which some foreign goods can
be purchased at prices that are relatively lower than at home, even it if is
absolutely less efficient in the production of all goods compared to a more
developed trading partner.”[27]
[1] Dennis R. Appleyard &
Alfred J. Field, International Economics
Second Ed (Chicago : Richard D. Irwin, Inc, 1995), 29
[2] Ibid.
[3] Peter H. Lindert &
Thomas A. Pugel, International Economics
Tenth Ed (United States of America : Michael W. Junior, 1996), 33-34
[4] Ibid.
[5] Paul R. Krugman &
Maurice Obstfeld, International Economics
Theory and Policy Third Ed (New York : Harper Collins College Publishers,
1994), 30
[6] Appleyard & Field,
op. cit., 29-30.
[7] Appleyard & Field,
op. cit., 29-30.
[8] Ibid., 48
[9] Ibid., 30
[10] Dominick Salvatore, International Economics Fifth Ed (New Jersey
: Prentice-Hall, Inc, 1993) , 31
[11] Appleyard & Field,
op. cit., 31
[12] Ibid., 33
[13] Bela Balassa, “An Empirical Demonstration of Classical
Comparative Cost Theory,” The Review of Economics and Statistics
Vol. 45, August, 1963 : 231-238
Vol. 45, August, 1963 : 231-238
[14] Paul R. Krugman &
Maurice Obstfeld, International Economics
Theory and Policy Third Ed (New York : Harper Collins College Publishers,
1994), 29
[15] Appleyard & Field,
op. cit., 53
[16] Ibid., 32
[17] Ibid., 39
[18] Ibid.
[19] Ibid.
[20] Ibid.
[21] Paul R. Krugman &
Maurice Obstfeld, International Economics
Theory and Policy Third Ed (New York : Harper Collins College Publishers,
1994), 21
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] Ibid.
[25] Ibid., 22
[26] Ibid.
[27] Appleyard & Field,
op. cit., 39
Tidak ada komentar:
Posting Komentar