Jumat, 16 Maret 2012

What you should know about The Voice, Whitney Houston

Tulisan ini saya dedikasikan untuk sang diva, Whitney Houston yang tak kenal lelah memberi inspirasi dalam hidup saya. To be honest, saya bingung untuk memulai tulisan ini darimana. Apakah dari list prestasinya? Atau lagunya? Entahlah. Yang pasti semua tahu Whitney Houston, people know what amazing her voice is, no doubt. Whitney dijuluki the most awarded female recording of all time karena prestasinya, the voice karena suaranya, dan the icone karena fashion sense-nya dalam dunia fashion. Whitney Houston yang selalu — tanpa jenuh oleh banyak orang — disejajarkan dengan Mariah Carey dan Celine Dion, tidak dapat dipungkiri memiliki sisi lain yang tidak dimiliki kedua diva tersebut, yakni what people felt when she sang, even when she just opened her mouth to begin to sing.
Personally, I prefer Whitney to both Mariah and Celine. Why? Ini masalah rasa, masalah hati. Tanpa merendahkan kedua diva di atas, namun Whitney Houston dapat membuat semua orang berdecak kagum dengan suaranya tanpa bergeming. Ketika pertama kali saya mendengar lagu “My Heart Will Go On”-nya Celine, saya berpikir lagunya sangat sulit untuk dilupakan. Sebuah lagu yang pantas disebut masterpiece. Celine bernyanyi sangat baik, for sure. Namun, what makes Celine looked amazing in my eyes is because...well, I’m gonna say that she’s amazing singer, tapi lagunyalah yang membuat Celine menjadi seorang diva. My heart will go on, because you love me, all by myself adalah sebagian lagu-lagu hits Celine. Berbeda dengan Celine yang lebih mengandalkan ketepatan lagu, Whitney cenderung lebih dinamis dalam memilih lagu. Lihat saja lagu andalannya, “I will always love you” yang aslinya merupakan lagu lawas yang tidak cukup laku di tahun 70-an. Itulah yang membuat Whitney berbeda. Lagu apapun, bahkan seburuk apapun akan menjadi sebuah lagu yang indah jika dinyanyikan olehnya.
Mariah Carey. Siapa yang tak kenal lagu “Hero”? “We Belong Together”? Ya, diva bersuara alto ini merupakan wanita terlaris sepanjang tahun 90-an. Begitulah MC disebut. Vocal range 5 oktafnya menjadi salah satu senjata Mariah untuk mengalahan Whitney di ajang Grammy Award tahun 1991 melalui lagu lawas “Vision of Love”. Namun, what makes Whitney wins over Mariah? Mariah Carey mungkin memiliki nada-nada super-duper-high dengan whistle register-nya, tapi senjata ini sejujurnya juga yang membuat Mariah tidak se-flawless Whitney. Masalahnya, tidak semua orang mengerti musik, notasi lagu, apalagi teknik bernyanyi. Apa yang orang pikirkan adalah seberapa enak sebuah lagu dinyanyikan, bukan seberapa jauh vocal range penyanyi tersebut. Terkadang, malah, dengan suara pluitnya Mariah membuat orang awam berkata, “What are you doing, Mariah? That sounds too much!”. Selain itu, Mariah juga dikenal dengan teknik bernyanyi melisma yang cenderung “gonta-ganti suara”. Mungkin, anda sering mendengar Mariah bernyanyi dengan teknik modal voice, lalu naik dengan falsetto, turun menukik dengan vocal fry, lagu kembali ke modal voice, dan diakhiri dengan whistle register yang melengking. Cara menyanyi Mariah yang akrobatis ini bagi sebagian orang merupakan anugerah, hebat, dan langka. Beberapa yang lain, yakni mereka yang awam, merasa bahwa cara menyanyi itu tidaklah enak didengar. Kenapa? Rasionalnya, seseorang akan mengatakan sebuah lagu itu enak, jika dia dapat menyanyikan lagu tersebut, atau paling tidak mendengungkannya tanpa ragu dan kesulitan. Sekarang bayangkan, bagaimana mereka dapat menikmati lagu tersebut jika notasinya saja jungkir balik. Not-not tinggi dan rendah terkadang terlalu curam untuk ukuran orang biasa. Tidak percaya? Coba anda dengarkan lagu “Emotions” berikut lalu setelah itu coba anda nyanyikan. (silahkan klik http://www.youtube.com/watch?v=NrJEFrth27Q&ob=av2e).
Coba anda bandingkan dengan Whitney Houston yang cenderung santai dalam membawakn lagu-lagunya, tapi tetap tanpa kehilangan keindahan dan kharisma dari lagu tersebut. Whitney Houston sering menggunakan teknik chest voice untuk melakukan belting nada-nada tinggi. Hal inilah yang kemudian membuat sang diva memiliki power yang sangat kuat, bahkan untuk nada setinngi c5 hingga g#5. Kemampuannya dalam memberikan dinamika dalam setiap lagunya juga patut diacungi jempol. Anda pasti tidak asing lagi dengan lagu “I will always love you”. Soundtrack film box office di tahun 1994, The Bodyguard. Siapa yang menyangka lagu yang dikatakan Simon Cowell sebagai “one of the most beautiful song ever written in history” ini merupakan sebuah lagu usang milik Dolly Parton, penyanyi country di tahun 60 hingga 70-an. Bahkan, ketika pertama kali dirilis oleh Parton, lagu ini tidak terlalu meledak di pasaran. Hebatnya, Whitney dapat mengubahnya menjadi sebuah lagu yang mendulang sukses luar biasa dengan aransemen yang berbeda. Tidak tanggung-tanggung, 3 grammy awards Whitney peroleh dengan lagu tersebut. Tahun 1994 sebagai tahun lahirnya lagu tersebut pun menjadi puncak karir Whitney Houston di jagat hiburan.
Apa yang saya kagumi dari seorang Whitney Houston selanjutnya adalah kedinamisan suaranya dalam menyanyikan lagu-lagunya secara live. Berbeda dengan Celine yang selalu bernyanyi rapi — maksud saya sama persis dengan apa yang telah direkam — Whitney selalu bernyanyi lepas, bahkan di setiap penampilan live-nya sang diva selalu memberikan dinamika dan improvisasi yang berbeda untuk lagu yang sama. Lagu “I will always love you” misalnya, dapat ditampilkan dengan sangat berbeda di perhelatan grammy 1994, divas concert 1999, konser di Afrika Selatan tahun 1994, bahkan di American Music Award 2004.
Whitney Houston juga menjadi pionir untuk musisi kulit hitam dalam menembus pasar musik Amerika maupun tangga lagu Billboard yang kala itu didominasi oleh musisi kulit putih. Vibrasi ala Beyonce mungkin menjadi salah satu contoh bagaimana pengaruh vokal Whitney sangat dalam bagi banyak penyanyi dunia. Cara bernyanyi Charice pempengco, Leona Lewis, dan bahkan Agnes Monica mendapat banyak pengaruh dari Whitney Houston. Lady Gaga pun dalam acceptance speech-nya saat menerima penhargaan grammy mengutarakan kekagumannya pada sang diva, betapa sang diva telah banyak memberikan inspirasi dalam hidupnya.
Ketika saya menulis tulisan ini, saya baru saja mendengar berita kematian sang diva. Tak henti-hentinya saya mendengarkan lagu-lagu Whitney yang memang selalu saya nyanyikan dimanapun saya berada, di kamar, di kamar mandi, di ruang kuliah (ketika kosong tentunya), bahkan diatas motor dalam perjalanan menuju kampus. Whitney menjadi inspirasi bagi saya dalam bernyanyi maupun dalam banyak hal. Lagu “When you believe” yang menjadi theme song saya selama menjalani masa-masa menjelang SNMPTN Tulis merupakan salah satu lagu yang sangat bermakna bagi saya. Bahkan, teman saya, Syahrial Saputra, sempat mengatakan bahwa dia bisa hapal lagu tersebut sebab saya menyanyikannya berulang-ulang ketika saya masih duduk di bangku SMA.
Secara objektif, Whitney bukanlah penyanyi yang sempurna. Cara bernyanyi Whitney, menurut saya pribadi, tidaklah sehat. Pada zamannya, suara merupakan satu-satunya modal untuk menjadi seorang penyanyi yang ingin masuk dapur rekaman. Hal ini tentu berbeda dengan sekarang, hanya bermodal sepotong bra dan celana ketat, seorang penyanyi tidak berkualitas pun dapat menjadi seorang superstar di dunia musik. Semuanya dapat dipermudah dengan bantuan penyaring suara dan teknologi lainnya. Menyanyikan lagu-lagu dengan tingkat kesulitan yang tinggi dan kuantitas jadwal konser yang tiada habisnya telah membuat kualitas suara Whitney semakin lama semakin berkurang. Bila anda cermati, semua penyanyi di angkatan Whitney, seperti Mariah Carey, Celine Dion, Janet Jackson, dan Madonna mengalami penurunan kualitas vokal yang serupa dialami oleh Whitney. Mariah yang suara peluitnya sekarang tidak sebersih dulu, Celine yang selalu bernyanyi live dengan nada lebih rendah dari versi rekamannya, dan Janet serta Madonna yang memang pada dasarnya tidak memiliki basic vocal yang bagus juga mengalami penurunan kualitas vokal dalam bernyanyi. Bedanya, Whitney lebih dulu terjatuh pada jurang narkoba, rokok, serta alkohol yang merupakan dosa besar bagi seorang penyanyi.
Namun, apa yang saya sesalkan adalah bagaimana media terus menerus melakukan perbandingan kualitas suara sang diva pada puncak karirnya dengan keadaan suaranya pada masa comeback-nya. Bahkan, meninggi intensitasnya sekarang di tengah kematiannya. Juga bagaimana kisah hidupnya yang sangat pahit menjadi sebuah hiburan apik bagi publlik. Hal ini terbukti dengan fakta bahwa interview Whitney oleh Diane Sawyer di tahun 2001 menjadi  the highest-rated television interview in history. Hmmm... What I attempt to reveal here is that we should thank her for her voice, her contribution, her inspiration, and everything she has done for us. Tidaklah bijak untuk memperolok-oloknya, sedangkan betapa banyak jasa yang telah Whitney berikan selama karirnya.
Rest In Peace, Whitney Houston.
You’re the voice.
You’re what diva exactly means.
You’re the queen of pop.
We will Always Love You, Whitney Houston.

2 komentar:

  1. I love her too..
    Thanks.
    Serius tuh, American Idol? 😀

    BalasHapus
  2. I love her too..
    Thanks.
    Serius tuh, American Idol? 😀

    BalasHapus